Blurb
Aku : Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja ?
Psikiater : Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki ?
Aku : Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri
***
I Want to Die but I Want to Eat Ttteokpokki adalah esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat dan evaaluasi diri yang bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai dirinya.
Buku self improvement ini mendapatkan sambutan baik karena pembaca merasakan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku ini mendapatkan predikat bestseller di Korea Selatan.
Review by Rizqi
Selesai baca : 18 Desember 2020
Setelah sekian lama reading slump akhirnya Rizqi berhasil menyelesaikan buku ini. Sebenarnya agak membosankan di awal karena belum terbiasa dengan buku terjemahan asal Korea, namun saat (mencoba memaksakan) baca kembali lebih banyak, Rizqi tidak menyesal membaca ini.
Seperti yang tertera di blurb, buku IWTDBIWTET (MasyaAllah judul bukunya sepanjang jalan kenangan •_•) merupakan catatan pengobatan Baek Se Hee yang terjangkit distimia mulai dari pertama kali ia mengunjungi sang psikiater. Distimia adalah kondisi di mana penderita mengalami depresi ringan berkepanjangan dan terus menerus. Seseorang dapat kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, merasa tidak ada harapan, produkivitas berkurang, harga diri rendah dan perasaan tidak layak.
Ketika membaca diagnosis di atas, ada yang merasa mirip dengan kondisi yang dialami? Eits, belum tentu kamu menderita distimia loh! ((Kita tidak bisa mendiagnosis diri sendiri, tapi kita bisa memahami bagaimana rasanya hidup dan berpikir seperti orang yang mengalami distimia.)) Ya, untung saja pada bagian awal buku sudah diberi warning seperti di atas. Jika tidak, pasti Rizqi sudah mendiagnosis diri dengan ini dan itu karena beberapa kondisi terasa nyata adanya.
Berikut ini cara berpikir orang-orang yang hidup dalam distimia :
1. Black and White Thinking
Pada keadaan ini seseorang cenderung melihat segala sesuatu sebagai 100% hitam dan 100% putih, tidak ada abu-abu dan tidak ada warna lain. Seseorang cenderung berpikir terpolarisasi dalam keadaan depresi.
2. Overgeneralization
Seseorang bisa tampak sangat mudah menggeneralisasi keadaan. Satu kejadian buruk dapat dianggap mewakili keseluruhan hidup.
3. Personalization
Seseorang juga dapat menganggap segala sesuatu yang terjadi adalah kesalahannya. Teman saya menjauh adalah kesalahan saya. Saya kesepian adalah kesalahan saya. Gempa bumi dan tsunami juga kesalahan saya.
4. Fortune Telling
Dalam keadaan ini, seseorang cenderung membayangkan masa depan tapi dalam bayangan yang buruk. Masa depan saya pasti akan sia-sia. Pekerjaan saya akan digantikan orang lain. Di masa depan saya bukan siapa-siapa.
5. Mind Reading
Dalam cara berpikir ini, kita seakan bisa membayangkan isi pikiran orang lain. Ketika orang lain bicara hal yang netral pun dapat kita terjemahkan sebagai “dia pasti kayak gitu karena mau merendahkan saya”, “dia pasti kayak gitu untuk menghina saya”, seakan kita tahu motif orang lain melakukan sesuatu. (Rizqi pernah seperti ini huhu)
6. Emotional reasoning
Seseorang cenderung menggunakan emosinya sebagai landasan berpikir. Kalau saya merasa cemburu artinya “berarti pasangan saya selingkuh, karena saya merasa cemburu”. Saya mersa tertolak dan diabaikan maka artinya “kamu pasti sedang menolak dan mengabaikan saya”.
7. Disqualifying the Positive
Segala peristiwa yang masuk kita persepsikan dengan sudut pandang yang negatif. Kalau ada perisiwa positif yang kita alami, maka itu akan diartikan kembali buruk. (kujuga seperti ini wqwq)
8. Ambivalensi
Melatarbelakangi itu semua, bisa saja ada pikiran yang saling berkontradiksi yang keduanya sama-sama dirasakan. Bisa saja saya ingin mengakhiri hidup dan di saat yang bersamaan saya juga ingin hidup.
Selain distimia, ada beberapa istilah psikiatri lain di sini. Misalnya, akathisia yaitu suatu gejala tidak bisa diam, menunjukkan kondisi di mana seseorang tidak bisa duduk dengan tenang, menunjukkan kegelisahan seperti terus menggerak-gerakkan kaki saat sedang duduk maupun berdiri. Gejala ini bisa dilihat sebagai efek samping pada orang-orang yang sedang mengonsumsi obat penenang. (gejala ini mirip sekali dengan Rizqi, tapi kan ane gak minum obat penenang -_-)
Sayangnya, bagian akhir buku ini yang merupakan tulisan penulis tanpa sang psikiater terasa datar. Ada malah yang enggak rizqi mengerti maksudnya apa wkwkwkw, tapi ada satu tulisan berkesan dari Baek Se Hee yang bercerita tentang anjing peliharaannya yang semakin tua, entah kenapa walaupun rizqi tidak pernah punya binatang peliharaan tapi ikut merasakan kesedihan T_T
Rizqi mau menambahkan jawaban si psikiater dari kondisi Baek Se Hee setelah wawancara, karena banyak sekali yang relate 😁
1. Perihal rasa simpati. "Ada baiknya jika anda tidak menunjukkan ketertarikan Anda pada sesuatu yang sama sekali tidak menarik bagi anda." (entah kenapa ini agak sulit untuk Rizqi lakukan)
2. Obsesi tidak muncul gara-gara penampilan anda. Obsesi terhadap penampilan itu muncul karena anda memiliki gambaran yang ideal tentang sosok diri anda. Akibat standar yang anda buat sendiri itu, maka kriteria anda menjadi sempit dan tinggi.
3. Segala sesuatu terlihat menyenangkan hingga sesaat sebelum kita benar-benar melakukannya. Sama halnya dengan pekerjaan maupun sekolah. Kita benar-benar merasa senang saat lolos seleksi, tapi begitu kita mulai terjun ke dalamnya, disanalah segala keluhan dan ketidakpuasan dimulai.
4. Saat anda tidur, jauhkanlah ponsel anda. Sama saja kan melihatnya di malam atau pagi hari? Hal yang bisa anda tunda sebentar dalam kehidupan sehari-hari ada baiknya ditunda terlebih dahulu. Anda sebaiknya bisa mengatur skala prioritas dalam kehidupan sehari-hari Anda.
5. Diskusi itu kan hanya menyampaikan penilaian masing-masing. Ini bukan masalah yang memiliki jawaban benar atau salah.
6. Saya cenderung terus memikirkan kata-kata yang terasa menohok bagi saya dan biasanya saya mengatakannya berulang-ulang. Kira-kira apa yang menyebabkan saya melakukan pengawasan pada diri saya ?
"Penyebab utamanya adalah karena anda terlalu mengkhawatirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Akibatnya, kepuasan tergadap diri anda pun menurun. Padahal, hidup anda adalah milik anda sendiri. Tubuh anda adalah milik anda dan andalah yang sepenuhnya bertanggung jawab atasnya.
7. Anda tidak bisa membenci seseorang secara keseluruhan hanya karena Anda membenci satu hal dari dalam dirinya.
Identitas Buku :
Penulis : Baek Se Hee
Penerbit : Haru
Tahun : Cetakan Pertama, Agustus 2019
Cetakan keduabelas, November 2020
Tebal : 236 halaman
Harga P. Jawa : Rp 99.000,- (tapi Rizqi dapat diskon jadi 50k yeay!)

Komentar
Posting Komentar