Mau sampai kapan?
Tak cukup membuatnya mengerti
Tak cukup membuatnya berhenti
Ia terus saja bermain api
Tak peduli tangan merah melepuh
Rambut gosong terbakar
Ia tetap teguh pendirian
Hingga belati menancap ke dalam hati
Luka menganga, tak berdaya
Ia tetap berkata
"Tak mengapa, inilah konsikuensinya."
Mau sampai kapan?
Sampai kapan akan seperti ini
Terus membohongi diri?
Bilang akan baik-baik saja
Ah, setetes darah mengalir
Keadaan tak mendukungmu
Ucapanmu palsu belaka
Sudahlah
Berhentilah
Obati laramu ...
- tiba-tiba lapar
Jum'at 27/09/2019
Komentar
Posting Komentar